Tadabur Al-Baqarah Ayat 61: Bosan dengan Nikmat Sorgawi

Visualisasi tadabur Al-Baqarah ayat 61 tentang sifat manusia yang bosan dengan nikmat surgawi dan rindu masa lalu.
Visualisasi tadabur Surah Al-Baqarah ayat 61, merenungkan sifat manusia yang mudah bosan dengan nikmat Allah dan merindukan kebodohan lama.

Kenapa Manusia Sering Tidak Pernah Puas? Fenomena Kebosanan dan Regresi Mental dalam Surah Al-Baqarah Ayat 61

Setelah pada ayat sebelumnya Allah SWT mengisahkan mukjizat yang sangat fantastis berupa terpancurnya 12 mata air dari batu karang yang kokoh demi memuaskan rasa dahaga Bani Israil di padang Sahara yang tandus, ayat ke-61 dari Surah Al-Baqarah ini hadir menyuguhkan sebuah potret psikologis manusia yang amat unik, menggelikan, menyedihkan, sekaligus penuh dengan cermin refleksi bagi kehidupan modern kita hari ini.

Mari kita cermati bersama firman Allah SWT berikut ini:

Wa idz qultum ya musa lan nasbira ‘ala ta’amin wahidin fad’u lana rabbaka yukhrij lana mimma tumbitul-ardu min baqliha wa qiththa’iha wa fumiha wa ‘adasiha wa basaliha, qala atastabdilunal-ladzi huwa adna bil-ladzi huwa khair, ihbitu misran fa-inna lakum ma sa’altum, wa duribat ‘alaihimudz-dzillatu wal-maskanatu wa ba’u bighadabim minallahi, dzalika bi-annahum kanu yakfuruna bi-ayatillahi wa yaqtulunan-nabiyyina bighairil-haqqi, dzalika bima ‘asaw wa kanu ya’tadun.

“(Dan ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak tahan lagi dengan hanya satu jenis makanan saja. Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.’ Musa berkata, ‘Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai pengganti dari sesuatu yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.’ Lalu ditimpakanlah kepada mereka kehinaan dan kemiskinan, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.'” (QS. Al-Baqarah: 61)


Konteks Historis dan Analisis Tafsir: Kemewahan yang Disepelekan

Untuk memahami betapa dalamnya ironi yang terkandung dalam ayat ini, mari kita bayangkan setting sejarah yang sedang dialami oleh Bani Israil saat itu. Mereka berada di padang Tiihโ€”sebuah wilayah padang pasir yang amat terik, tandus, dan tanpa infrastruktur dasar. Namun, di tengah kondisi alam yang ekstrem tersebut, Allah SWT memberikan pemeliharaan secara langsung (direct divine care) yang tiada tandingannya.

Allah memayungi mereka dengan awan (al-ghamฤm), mengalirkan air segar dari batu karang, serta menyajikan dua jenis makanan surgawi yang diturunkan tanpa perlu kerja keras: Mann (sejenis embun manis yang lezat bagaikan madu) dan Salwa (daging burung puyuh yang sangat empuk, gurih, dan tinggi nutrisi). Makanan ini bersih, siap saji, gratis, dan terjamin higienis setiap harinya.

Namun, bagaimana respons mereka setelah sekian lama menikmati fasilitas “hotel bintang lima” gratis di tengah gurun ini? Mereka mengalami sindrom kejenuhan. Mereka mendatangi Nabi Musa AS bukan dengan nada rasa syukur, melainkan dengan ungkapan protes yang terkesan meremehkan: “Lan naแนฃbira ‘alฤ แนญa’ฤmin wฤแธฅid”โ€””Kami tidak bisa sabar lagi kalau makanannya cuma begini-begini saja!”

Secara bahasa, penggunaan kata “Ta’am Wahid” (satu makanan) sejatinya merupakan sebuah bentuk penggelembung ungkapan dari Bani Israil. Padahal, Allah menyajikan dua menu (mann dan salwa). Namun karena hati mereka sudah terjangkit penyakit jenuh, variasi yang nikmat itu dianggap seragam, membosankan, dan tidak bernilai lagi.

Mereka lalu meminta ganti dengan hasil bumi mentah: baql (sayuran hijau/herba), qiththa’ (mentimun), fum (bawang putih atau gandum), ‘adas (kacang adas), dan basal (bawang merah). Menu-menu ini adalah bahan makanan kelas bawah yang biasa mereka konsumsi saat mereka masih berstatus sebagai para budak yang terhina di bawah kekejaman Firaun di Mesir.

Nabi Musa AS merespons permintaan tersebut dengan kalimat teguran yang sangat tajam dan legendaris: “Atastabdilลซnal-laลผฤซ huwa adnฤ bil-laลผฤซ huwa khair?” (Apakah kalian ingin menukar sesuatu yang mulia, bersih, dan bergizi tinggi dari langit dengan sesuatu yang jauh lebih rendah dan harus digali dari tanah dengan kepayahan?)


Tiga Penyakit Jiwa dalam Surah Al-Baqarah Ayat 61

Dari penggalan sejarah Bani Israil ini, para ulama tafsir dan pakar psikologi Islam mengekstraksi sedikitnya tiga penyakit mental dan spiritual yang sangat rentan menjangkiti manusia di segala zaman:

1. Hedonic Adaptation & Penyakit Cepat Bosan dengan Kestabilan

Dalam psikologi modern, ada istilah yang disebut hedonic adaptationโ€”sebuah kecenderungan manusia untuk dengan cepat kembali ke tingkat kebahagiaan netral meskipun telah mendapatkan peningkatan fasilitas hidup. Bani Israil di padang pasir telah mengalami hal ini. Kemudahan mendapatkan makanan gratis dan kedamaian hidup yang awalnya dianggap sebagai mukjizat luar biasa, lama-kelamaan dianggap sebagai barang biasa yang membosankan.

Banyak manusia hari ini merusak kedamaian rumah tangganya, kariernya, atau ketaatannya hanya karena terdorong rasa bosan sesaat. Mereka yang hidup dalam kestabilan finansial dan keluarga yang harmonis terkadang malah “mencari masalah” baru hanya demi merasakan sensasi atau adrenalin baru yang destruktif.

2. Sindrom Regresi Mental (Rindu pada Kubangan Kebodohan Masa Lalu)

Mengapa Bani Israil begitu mendambakan bawang merah, bawang putih, dan kacang adas? Karena makanan itu terikat secara memori dengan kehidupan lama mereka di Mesir. Padahal di Mesir mereka dihinakan, dipekerjakan secara paksa, dan bayi-bayi laki-laki mereka disembelih oleh Firaun. Namun, logika yang sudah tumpul akibat rasa jenuh membuat mereka melupakan penderitaan sistematis itu dan hanya mengingat “aroma masakan bawang” masa lalu.

Ini adalah analogi sempurna bagi seseorang yang telah diberi kemuliaan hijrah. Sudah dikeluarkan oleh Allah dari kegelapan pergaulan bebas, dunia malam, judi, atau transaksi haram, namun saat fase hijrah terasa datar dan monoton, pikirannya mulai merindukan kembali “aroma kebebasan semu” di masa kebodohannya dulu. Ini adalah jebakan ilusi ingatan yang sangat berbahaya.

3. Kufur Nikmat sebagai Pintu Masuk Kehinaan (Adh-Dhillah wal Maskanah)

Ayat ini ditutup dengan vonis hukum dari Allah SWT: “Wa แธuribat ‘alaihimuลผ-ลผillatu wal-maskanah” (Dan ditimpakanlah kepada mereka kehinaan dan kemiskinan/kemiskinaan jiwa). Kehinaan fisik, kekalahan politik, serta kemiskinan mental yang dialami oleh Bani Israil sepanjang rentang sejarah bukanlah tanpa alasan.

Penyebab utamanya disebutkan secara eksplisit di akhir ayat:

  • Mengingkari ayat-ayat dan petunjuk Allah (yakfurลซna bi-ฤyฤtillฤh).
  • Membunuh para nabi dan menolak kebenaran (yaqtulลซnan-nabiyyฤซna bighairil-แธฅaqq).
  • Kedurhakaan yang berlanjut (‘aแนฃaw).
  • Sifat selalu melampaui batas (kฤnลซ ya’tadลซn).

Kisah Reflektif: Perangkap Nostalgia yang Memutarbalikkan Takdir

Untuk membumikan pemahaman ayat ini ke dalam realitas zaman sekarang, mari renungkan sebuah kisah nyata yang sering terjadi di sekitar kita.

Sebut saja namanya Ridwan (nama samaran). Dahulu, di usia mudanya, Ridwan terjebak dalam lingkaran pergaulan kelam: ketergantungan pada alkohol, balap liar, dan gaya hidup serba bebas yang kerap membawanya berurusan dengan pihak berwajib. Kehidupannya saat itu hancur secara finansial dan mental.

Atas dorongan doa sang ibu dan hidayah Allah, Ridwan memutuskan untuk bertaubat. Proses hijrahnya tidak mudah. Dia memutus kontak dengan teman-teman lamanya, mulai bekerja keras sebagai karyawan di sebuah perusahaan logistik, dan rajin menghadiri majelis ilmu. Perlahan namun pasti, Allah membukakan pintu keberkahan untuknya. Dia menikah dengan wanita solehah, dikaruniai dua anak yang lucu, memiliki rumah sederhana yang hangat, serta gaji bulanan yang cukup dan halal. Kehidupannya tenang, damai, dan aman.

Namun, setelah 7 tahun hidup dalam kestabilan itu, ujian kejenuhan mulai menyapa Ridwan. Rutinitas bangun pagi, bekerja, pulang ke rumah, mendampingi anak belajar, dan pergi ke masjid terasa sangat datar baginya. Dia mulai merindukan sensasi tawa lepas, dentuman musik, dan kebebasan tanpa aturan seperti zaman mudanya dulu. Dalam hatinya, dia membatin: “Hidup lurus begini terus kok rasanya membosankan ya? Dulu waktu hidup bebas rasanya lebih seru.”

Pikiran ini adalah manifestasi nyata dari ungkapan Bani Israil: “Kami tidak tahan hanya dengan satu menu hidangan yang tenang ini, berikan kami bawang merah masa lalu!”

Berawal dari sekadar membuat grup percakapan baru dengan teman-teman lamanya dengan dalih “nostalgia dan menjaga silaturahmi”, Ridwan mulai memberanikan diri berkumpul kembali. Awalnya hanya ngopi, lalu mulai ikut minum-minum tipis, hingga akhirnya dalam hitungan bulan, dia kembali terperosok ke dalam perjudian online dan perselingkuhan.

Hasil akhirnya sangat memilukan: tabungan keluarga habis terkuras, rumah tangganya di ambang perceraian, dan dia dipecat dari pekerjaannya. Ridwan menukar “mann dan salwa” berupa kestabilan rumah tangga dan rezeki halal, demi “bawang busuk” masa lalu yang sempat dia tinggalkan. Kehinaan (adz-dhillah) dan kemelaratan (al-maskanah) mendadak mengepung hidupnya kembali.


Relevansi Modern: Mengapa Manusia Zaman Now Mudah Kufur Nikmat?

Jika kita kaji lebih jauh, ada beberapa faktor pemicu utama mengapa manusia modern sangat mudah dihinggapi oleh sindrom kemanusiaan Bani Israil di ayat 61 ini:

  1. Banjir Dopamin Semu (Dopamine Overload): Media sosial dan budaya konsumerisme membentuk mentalitas bahwa “yang baru selalu lebih baik” dan “hidup orang lain selalu lebih seru”. Akibatnya, nikmat kesehatan, kedamaian rumah tangga, dan pekerjaan yang sedang kita genggam terasa membosankan karena selalu dibandingkan dengan tayangan hidup orang lain.
  2. Ketidakmampuan Mengelola Sunyi dan Rutinitas: Banyak orang tidak sanggup duduk tenang menikmati keheningan. Bagi mereka, ketenangan adalah kebosanan, padahal ketenangan adalah salah satu bentuk nikmat terbesar dari Allah.
  3. Ketidakjelasan Makna Hidup: Ketika ibadah dan pekerjaan dilakukan secara mekanis tanpa pemahaman esensi, seseorang akan kehilangan kelezatan spiritual. Akibatnya, jiwa yang lapar akan mencari “makanan sampah” untuk memuaskan kehampaannya.

Tantangan Praktis: Protokol Membentengi Hati dari Kebosanan Destruktif

Agar kita tidak terjerumus ke dalam lubang kesalahan yang sama seperti yang digambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 61 ini, berikut adalah 3 langkah amalan praktis yang wajib kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • 1. Melakukan Audit Syukur Harian (Daily Gratitude Audit): Setiap kali rasa jenuh menyapa pekerjaan atau kehidupan rumah tangga Anda, ambil kertas dan tuliskan 5 hal dasar yang sangat berharga yang sedang Anda nikmati hari ini (misalnya: masih bisa bernapas lancar, anggota keluarga sehat, tidak punya utang menumpuk, memiliki tempat tinggal dari hujan). Sadari bahwa apa yang Anda anggap “rutinitas membosankan” adalah impian yang sangat dirindukan oleh jutaan orang di ruang ICU atau di kawasan peperangan.
  • 2. Tegaskan Pembatasan pada Masa Lalu (Burn the Bridges of Sins): Jangan pernah membuka pintu nostalgia pada dosa masa lalu. Hapus kontak, keluar dari grup, atau hindari tempat-tempat yang berpotensi memicu kerinduan Anda pada lingkaran maksiat lama. Ingatlah teguran Nabi Musa: Jangan tukar yang baik dengan yang buruk!
  • 3. Melakukan Tajdidun Niyyah (Penyegaran Niat dan Variasi Halal): Jika jenuh dengan rutinitas ibadah atau pekerjaan, ubah variasi atau metodenya dalam koridor yang halal. Jika jenuh membaca Al-Qur’an secara mandiri, bergabunglah dengan komunitas tadabur. Jika jenuh dengan rutinitas keluarga, rencanakan rekreasi atau kegiatan sosial bersama tanpa perlu melanggar syariat.

Doa Pemelihara Hati dan Rasa Syukur

Amalkan doa pendek berikut ini agar Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari sifat cepat bosan terhadap petunjuk-Nya serta melindungi kita dari kerinduan pada keburukan masa lalu:

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. Ya Muqallibal qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik, wa la taj’alna minal-khaasirin.”

Artinya: “Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu. Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang rugi.”


Pojok Tanya Jawab (FAQ Tadabur)

Pertanyaan: “Apakah salah jika kita menginginkan variasi dalam hidup, seperti ingin berganti pekerjaan atau suasana tempat tinggal? Apakah itu termasuk kufur nikmat seperti Bani Israil?”

Jawaban: Menginginkan kemajuan, variasi, atau peningkatan kualitas hidup yang lebih baik (ihsan) adalah hal yang sangat manusiawi dan diperbolehkan dalam Islam, selama proses dan tujuannya berada dalam koridor yang halal. Kesalahan Bani Israil dalam ayat ini bukan terletak pada keinginan mereka makan sayuran, melainkan pada tiga hal mendasar:

  1. Sikap Meremehkan Nikmat Allah: Mereka menganggap makanan surgawi (mann dan salwa) sebagai sesuatu yang tidak bernilai.
  2. Cara Menyampaikan yang Tidak Beradab: Mereka mendatangi nabi mereka dengan nada memprotes dan menuntut, bukan memohon dengan kesantunan.
  3. Keinginan untuk Turun Kelas (Regresi): Mereka rela menukar nikmat kemuliaan iman dan kebebasan dengan pola hidup rendah yang mendekatkan mereka kembali pada memori kehinaan perbudakan.

Jadi, selama keinginan berkembang Anda ditujukan untuk meningkatkan ketaatan dan dilakukan dengan rasa syukur atas apa yang ada saat ini, maka itu bukan termasuk kufur nikmat.


Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda menyaksikan atau merasakan sendiri bagaimana rasa bosan pada kestabilan justru menjadi pintu masuk rusaknya sebuah kedamaian hidup? Mari tuliskan pandangan dan pengalaman reflektif Anda di kolom komentar di bawah ini!


Navigasi Artikel Tadabur Tematik:

Tinggalkan komentar