
Kenapa Manusia Sering Lupa pada Karunia Hidup Setelah Diselamatkan? Merenungi Kebangkitan dan Kesempatan Kedua
Salah satu misteri terbesar dalam perjalanan eksistensial manusia adalah bagaimana kita menyikapi pinjaman waktu yang disebut kehidupan. Sering kali manusia baru menyadari betapa berharganya sehembus napas ketika ia berada di ambang kehilangan seluruhnya. Setelah pada ayat sebelumnya Allah SWT menceritakan bagaimana sebagian Bani Israil disambar halilintar akibat kelancangan mereka menuntut melihat Allah secara langsung dengan mata telanjang, Surah Al-Baqarah ayat 56 ini menyambung kisah tersebut dengan sebuah babak rahmat yang luar biasa besar dan penuh dengan pengajaran spiritual mendalam.
Mari kita cermati firman Allah SWT beserta terjemahannya berikut ini:
Tsumma ba’nakum mim ba’di mautikum la’allakum tasykurun
“Kemudian Kami membangkitkan kamu setelah kematianmu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 56)
Konteks Historis Peristiwa: Rahmat Allah di Balik Hukuman Matang
Untuk menyelami kedalaman makna ayat ini, kita perlu melihat kembali benang merah peristiwa yang dialami oleh 70 utusan terbaik Bani Israil yang menyertai Nabi Musa ‘alaihissalam ke Bukit Tursina. Ketika mereka disambar halilintar (as-sa’iqah) akibat kelancangan tuntutan mereka, tubuh mereka roboh dan bernyawa melayang. Mereka mengalami kematian nyata di hadapan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir dan At-Thabari merincikan bahwa menyaksikan 70 orang utusan pilihan kaumnya tewas seketika, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis dan memohon dengan sangat khusyuk di hadapan Allah SWT. Beliau berdoa agar Allah tidak membinasakan mereka, karena jika beliau kembali ke hadapan Bani Israil tanpa 70 orang tersebut, kaumnya akan menuduh beliau telah membunuh wakil-wakil terbaik mereka. Dalam riwayat tafsir disebutkan bahwa Nabi Musa meratap, memohon ampunan, dan meminta agar Allah memberikan kesempatan kedua bagi kaum tersebut.
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengabulkan doa Nabi Musa. Allah membangkitkan kembali 70 orang tersebut satu per satu dari kematian mereka. Mereka yang tadinya sudah kaku tak bernyawa kembali bernapas, detak jantung mereka berdenyut lagi, dan panca indra mereka berfungsi sempurna. Ini adalah sebuah peristiwa mukjizat kebangkitan fisik yang dahsyat yang disaksikan langsung oleh orang-orang yang mengalaminya.
Eksplorasi Kebahasaan: Makna “Ba’ts” dan Tujuan “La’allakum Tasykurun”
Keindahan tata bahasa Al-Qur’an menyimpan makna implisit yang sangat tajam bagi pengamatan jiwa manusia:
1. Kata Ba’ts (ุจูุนูุซูููุงููู ู)
Secara linguistik, kata ba’ts berarti membangkitkan, membangunkan dari tidur, atau menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati atau terhenti. Pemilihan kata ba’ts dalam ayat ini memiliki dua dimensi pemaknaan: pertama, kebangkitan fisik secara nyata di dunia bagi 70 utusan Bani Israil; kedua, sebagai prototipe atau gambaran kecil dari Ba’tsul Ajsad (kebangkitan jasmani) yang kelak akan dialami oleh seluruh umat manusia di Hari Kiamat. Allah menunjukkan di dunia ini bahwa menghidupkan kembali manusia yang sudah mati adalah perkara yang sangat mudah bagi-Nya.
2. Frasa La’allakum Tasykurun (ููุนููููููู ู ุชูุดูููุฑูููู)
Tujuan utama dari pemberian kebangkitan dan kesempatan kedua itu dirumuskan dalam frasa penutup yang amat tegas: “agar kamu bersyukur”. Allah tidak membangkitkan mereka agar mereka kembali pada kesombongan intelektual, tidak pula agar mereka melanjutkan kebiasaan mendebat rasul, melainkan agar rasa syukur yang mendalam tertanam di dalam dada mereka. Kata la’alla (agar/supaya) memberi penekanan bahwa kesempatan hidup kedua adalah sarana untuk mencetak karakter hamba yang tahu berterima kasih.
Pelajaran Spiritual dan Filosofis Mendalam
Kisah kebangkitan Bani Israil ini bukanlah sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan cermin reflektif bagi setiap manusia yang hidup hari ini. Ada tiga pelajaran mendasar yang harus kita resapi:
1. Hidup Adalah Pinjaman dan Serial Kesempatan Kedua
Setiap kali kita bangun pagi setelah tidurโdi mana tidur itu sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebagai wafat sughra (kematian kecil)โatau setiap kali kita berhasil selamat dari masa-masa kritis seperti kecelakaan maut, penyakit vonis berat, atau krisis finansial yang menghancurkan, sesungguhnya kita sedang mengalami peristiwa “kebangkitan kecil”. Allah sedang menganugerahkan lembaran baru dan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Setiap napas yang kita hirup hari ini adalah bonus umur yang belum tentu kita dapatkan besok.
2. Sifat Dasar Manusia yang Mudah Amnesia Spiritual
Tragedi terbesar manusia bukanlah kegagalan, melainkan kecenderungan untuk mengalami “amnesia spiritual”. Saat berada dalam kesempitan, di ICU rumah sakit, atau di tengah badai krisis, manusia bisa sangat khusyuk berdoa, menangis meneteskan air mata, dan berjanji akan menjadi hamba yang saleh jika diselamatkan. Namun, ironisnya, begitu bahaya berlalu, kesehatan pulih, dan rekening kembali terisi, manusia sering kali cepat sekali lupa diri. Keadaan aman membuat jiwa kembali bebal dan mengulangi kelalaian yang sama.
3. Standar Hakiki dari Rasa Syukur (Syukur bil Arkan)
Bersyukur atas karunia hidup bukan sekadar pengucapan kalimat “Alhamdulillah” di ujung lidah sementara perilaku sehari-hari tetap mengabaikan perintah Sang Pencipta. Syukur yang sejati menuntut bukti nyata: memanfaatkan panca indra yang masih berfungsi, waktu yang masih tersisa, serta energi yang masih ada untuk melahirkan karya-karya kebaikan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkokoh ketaatan kepada Allah.
Kisah Nyata: Pelajaran Berharga dari Ruang ICU
Untuk memahami bagaimana momen kebangkitan dan kesempatan kedua ini mampu mengubah cara pandang seseorang secara radikal, mari kita renungkan pengalaman nyata berikut:
Ada seorang pengusaha sukses yang selama bertahun-tahun hidup dalam pusaran gaya hidup serba cepat, mengabaikan kesehatan fisik, dan meremehkan urusan spiritual. Waktunya dihabiskan dari satu ruang rapat ke ruang rapat lainnya demi mengejar akumulasi kekayaan. Salat baginya hanyalah kewajiban formalitas yang sering ditunda, dan keluarga hanya mendapatkan sisa-sisa waktu serta kejenuhannya.
Suatu malam, secara tiba-tiba ia terserang benturan jantung pembuluh darah yang sangat parah. Ia jatuh pingsan dan harus dilarikan ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Selama hampir satu minggu, ia berada dalam kondisi koma dan kritis di batas antara hidup dan mati. Keluarga dan dokter sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Namun, atas rahmat Allah, ia perlahan siuman. Saat pertama kali membuka mata dan melihat selang pernapasan serta monitor detak jantung di sekelilingnya, sebuah kesadaran dahsyat menghantam batinnya. Ia bercerita dengan mata berkaca-kaca:
“Saat saya berbaring tak berdaya di ruang gelap itu, saya sadar betapa tidak ada artinya seluruh mobil mewah, tabungan miliaran, dan jabatan yang saya banggakan. Semuanya tidak bisa membeli satu hembusan napas pun. Dalam hati saya cuma membatin meratap: Ya Allah, jika Engkau masih izinkan saya hidup, beri saya satu kesempatan lagi untuk menjadi ayah yang baik, suami yang bertanggung jawab, dan hamba yang tahu bersyukur.”
Setelah keluar dari rumah sakit, pria ini benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang berbeda. Ia melepaskan sebagian kesibukan bisnisnya yang tidak perlu, mulai rutin menyantuni anak yatim, melazimkan ibadah tepat waktu, dan memprioritaskan kedekatan dengan keluarganya. Kesempatan kedua di ruang ICU tersebut menjadi titik balik kebangkitan jiwanya dari kematian spiritual.
Analisis Psikologis: Fenomena Post-Traumatic Growth
Dari sudut pandang psikologi modern, peristiwa kebangkitan setelah krisis hebat dikenal dengan istilah Post-Traumatic Growth (Pertumbuhan Pasca-Trauma). Fenomena ini menjelaskan bagaimana seseorang yang berhasil melewati pengalaman dekat dengan kematian (near-death experience) atau krisis hebat dapat mengalami perubahan struktur kepribadian yang positif:
- Reevaluasi Prioritas Hidup: Individu mulai menyadari hal-hal apa saja yang benar-benar bernilai (seperti hubungan emosional, kedamaian batin, dan nilai spiritual) serta meninggalkan hal-hal yang bersifat artifisial.
- Peningkatan Kepuasan dan Rasa Syukur (Appreciation of Life): Hal-hal kecil yang tadinya dianggap biasaโseperti menghirup udara segar, menikmati secangkir air putih, atau melihat senyuman anggota keluargaโberubah menjadi sumber kebahagiaan dan rasa syukur yang amat mendalam.
- Perubahan Konsep Diri: Muncul rasa rendah hati yang kuat bahwa manusia tidak memiliki kendali mutlak atas hidupnya, sehingga mendorong lahirnya rasa ketergantungan dan kepasrahan kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Tantangan Praktik Hari Ini: Menghidupkan Kesadaran Kesempatan Kedua
Agar tadabur Surah Al-Baqarah ayat 56 ini tidak berhenti sebagai wacana, mari kita latih batin kita dengan tiga aksi praktis hari ini:
- Syukuri Napas Pertama di Pagi Hari: Ketika Anda terbangun dan membuka mata esok pagi, jangan langsung meraih ponsel pintar Anda. Diamlah sejenak selama satu menit, letakkan tangan di dada, dan ucapkan terima kasih yang tulus kepada Allah karena telah mengembalikan jiwa Anda dan memberikan “kebangkitan kecil” satu hari lagi.
- Pilih Satu Amal Kebaikan Nyata Hari Ini: Anggaplah hari ini sebagai bonus waktu yang diberikan Allah secara khusus kepada Anda. Gunakan bonus waktu ini untuk melakukan satu tindakan positifโmisalnya memaafkan kesalahan orang lain, bersedekah secara tersembunyi, atau menyelesaikan tugas yang tertunda dengan kualitas terbaik.
- Lakukan Evaluasi Reflektif Sebelum Tidur: Sebelum memejamkan mata di malam hari, tanyakan pada diri sendiri: “Jika seandainya hari ini adalah hari terakhir saya diberi kesempatan hidup oleh Allah di dunia, apakah saya sudah menggunakan waktu 24 jam tadi untuk hal-hal yang akan membuat saya tersenyum saat menghadap-Nya?”
Doa Pendek dan Khusyuk
Mari kita panjatkan doa ini agar senantiasa diberikan bimbingan untuk mengisi sisa umur dengan rasa syukur:
“Ya Allah, Sang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, terima kasih atas karunia napas, kesadaran, dan kesempatan hidup yang masih Engkau pinjamkan kepada kami hari ini. Jauhkanlah batin kami dari sifat amnesia spiritual dan lupa diri setelah Engkau selamatkan dari berbagai krisis kehidupan. Jadikanlah sisa umur kami sebagai ladang berbuat amal saleh, dan bimbinglah kami untuk senantiasa menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur. Amin ya Rabbal ‘alamin.”
Pojok Tanya Jawab (FAQ Tadabur)
Tanya: “Bagaimana cara menjaga agar rasa syukur itu tetap hidup di dalam diri kita, terutama ketika rutinitas harian yang melelahkan membuat kita sering mengeluh?”
Jawab: Kunci utama untuk menjaga nyala rasa syukur di tengah kejenuhan rutinitas adalah dengan sering-sering melakukan teknik “Visualisasi Kehilangan” dan melihat ke bawah:
- Visualisasi Kehilangan: Ketika Anda merasa lelah karena macet atau pekerjaan kantor yang menumpuk, cobalah bayangkan jika detik ini Allah mencabut nikmat fisik Andaโmisalnya mata tidak bisa melihat atau kaki tidak bisa berjalan. Seketika itu juga, lelahnya pekerjaan akan terasa sebagai nikmat yang sangat berharga dibandingkan kehilangan organ tubuh.
- Melihat ke Bawah (Perspektif Empati): Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk dalam urusan dunia selalu melihat kepada orang yang kondisinya berada di bawah kita. Ketika kita mengeluh karena lelah bekerja, ingatlah orang-orang yang saat ini berbulan-bulan terbaring di rumah sakit atau mereka yang kesulitan mencari nafkah demi piring nasi hari ini. Kesadaran ini akan membakar rasa mengeluh dan menggantinya dengan empati serta rasa syukur.
Pernahkah Anda mengalami suatu momen krisis dalam hidup yang membuat Anda merasa benar-benar diberi kesempatan kedua oleh Allah? Yuk, bagikan cerita dan pengalaman inspiratif Anda di kolom komentar di bawah ini!
- [Kembali ke Tadabur Ayat 55: Permintaan Nekat Bani Israil]
- [Kembali ke Muqoddimah Al-Baqarah]
- [Lanjut ke Ayat 57: Nikmat Naungan Awan dan Makanan Surgawi]